Gelak tersenyum Marintan Aluih, lalu berkata saat itu, “Tuan denai tolong dengarkan, bagi denai tidak begitu, Tuan sedih denai rusuh, Tuan sakit denai pedih.
Jika betul Tuan hendak pulang, melihat korong kampung, hanya satu permintaan denai, lekaslah Tuan kembali. Jangan lama kami ditiggalkan, canggung malah anak kita, tergamang Mancayo Alam, pada siapa denai bermanja.”
“Jika begitu kata Adik, senang hati mendenganya, jika Adik memberi izin, denai hendak melihat mandeh. Bagaimana mungkin denai pergi, badan halus seperti ini.”
Hiba hatinya Marintan Aluih, melihat sikap Marah Baganti, seperti berputus asa saja.
“Tubuh Tuan bisa kasar lagi, sebelum denai katakan, denai ingin Tuan berjanji, berjanjilah Tuan pada denai, tidak akan mungkir janji, kasih Tuan tidak akan hilang, cinta Tuan tidak berubah.”
Marah Baganti bersedih, terhiba di dalam hatinya, remuk rasanya di dalam dada, kasih ke anak bukan kepalang, hiba rasanya untuk berpisah. Tetapi rindu kepada mande, sungguh tidak tertanggungkan, sudah nampak puding di halaman, terbayang pinang bergelantungan, begitupun teman sama besar, serta tepian tempat mandi. Berkata sambil berhiba-hiba. “Adik Kandung Marintan Aluih, denai berkata hanya sekali, selingkaran Gunung Marapi, selurah batang Bangkaweh, hanya adik tempatan hati, mengapa adik masih ragu. Ameh batampo indak kalancuang, taanta ka tiang arasy, ka bawah takasiak bulan, ka ateh taambun jantan14.
“Jika begitu kata Tuan, hati denai menjadi tenang, denai lepas dengan hati suci, serta dengan muka yang jernih. Denai lepas dengan doa. Pergilah Tuan turun ke hilir, setibanya di Tabek Patah, mandilah Tuan sebentar saja. Tubuh Tuan akan kasar lagi. Tapi lekaslah Tuan kembali, mandi pula di Pincuran Puti, di telaga di bawah gunung, tubuh Tuan akan halus lagi.”
14) Keputusan yang bulat
27