Lompat ke isi

Halaman:Puti Marintan Aluih.pdf/40

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

Mendengar kata seperti itu, heran tercengang Marah Baganti, pikirannya jadi terbuka. Dipeluknya Marintan Aluih, berpadu kasih waktu itu,

“Adik Kandung Marintan Aluih, hiba rasanya hati denai, berpisah dengan anak kandung, seluruh tubuh terasa hancur.

Hanya satu permintaan denai, karena akan berjalan jauh. Berkata tidak cukup sepatah, berjalan tidak cukup selangkah. Jika terjadi hal yang buruk, kalau malang menimpa denai, denai tidak lekas kembali, atau celaka yang menimpa, nyawa di dalam tangan Allah.

Gelang bernama akar bahar, yang diambil di laut basa, berpalut ular melingkar, yang bertuah alang kepalang. Pasangkan di tangan anak, pasangkan di tangan kanan. Jangan dipasang sebelah kiri, celaka akan menimpa, seribu siang seribu malam, akan dimakan kutukan. Jika dipasangkan dengan benar, dia akan kebal besi, tidak dimakan bisa kawi, tahan tapo basijingkek, tahan putaling baju besi. Inilah pusaka warisan, orang hidup yang bertuah. Peganglah erat amanat ini, agar selamat anak kita.”

Mendengar perkataan Marah Baganti, senanglah hati Puti Marintan Aluih. Diambilnya gelang tersebut, diletakkannya di bawah bantal, sampai berkata sungguh-sungguh,

“Tuan Kandung Marah Baganti, pesan Tuan denai pegang erat, tidak akan denai lupakan, dipegang erat dibuhul mati.”

Konon pada malam itu, sepicingpun tidak tertidur, asyik bercumbu dan bercanda, kasih akan berjalan jauh, entah kapan bersua lagi, rantau jauh yang akan dijelang, berapa rimba dan pesawangan.

Diambil anak lalu didukung, ditangisi Mancayo Alam, hibalah

hati semuanya, melihat laku bapak dan anak, luluh rasanya di dalam hati, sepantun kaca ditimpa batu, air mata jatuh berderai, seperti manik putus pengarang.

29