Ramailah orang berdatangan, melepas Marah Baganti, pergi dilepas dengan doa.
Sudah setahun dua tahun, cukup sudah sepuluh tahun. Menyangkut Marah Baganti, tidak ada kabar dan berita, entah sudah sampai ke kampungnya, entah mati di dalam rimba, entah hanyut di dalam sungai, dibawa arus ke muara.
Adapun si Mancayo Alam, tumbuh menjadi anak muda, berani yang bukan kepalang, berkelahi pantang kalah, berkata pantang merendah. Asyik bermain setiap hari, sibuk bertanding sepak raga, serta bertanding pacu kuda.
Adalah pada suatu hari, ia pulang tergopoh-gopoh, mukanya merah-merah padam, di luar rumah langsung memanggil.
“Oi, Mande Kandung bukalah pintu, denai akan naik ke rumah.”
Marintan Aluih sangat cemas, mendengar anaknya memanggil, sungguh terkejut mande kandung, ia langsung membuka pintu.
“Anak Kandung Mancayo Alam, mengapa anak tergopohgopoh. Apa yang terjadi pada anak.”
“Wahai Mande kandung denai, sebaiknya pergi dari sini. Jika lama kita di sini, berkelahi setiap hari, tidak denai takut dengan orang. Denai dihina diberi malu, dikatakan denai anak dapat, disebut denai tidak berbapak, anak haram orang dunia.”
“Anak denai Mancayo Alam, mengapa anak marah-marah, mengapa didengar kata orang, kata banyak kata bergalau, usah diturutkan darah muda, tidak baik orang pemarah, orang pemarah pendek akal, tidak elok orang penggamang, orang penggamang mati jatuh, orang pendingin mati hanyut, orang yang tergesa-gesa,
salah dalam melangkah.”
31