Mendengar kata mande kandung, hatinya sedikit jadi tenang. Hati yang panas menjadi dingin, sudah teringat hal yang benar, diurut dada waktu itu, susah rasanya menahan hati.
“Wahai Mande Kandung denai, bukan denai marah-marah, denai diuji dicoba-coba. Setapak denai tidak surut, selangkah tidak mundur. Sejak kecil bernama laki-laki.
Hanya yang merusuh di hati, jika lama kita di sini, akan berhutang badan diri, mungkin mati anak-anak itu. Sebelum terjadi hal itu, jika bapak denai orang dunia, lebih baik pergi ke sana.”
Mendengar kata Mancayo Alam, sangat hiba hati Marintan Aluih, sakitnya tidak terkira, sambil menangis ia berkata, “Jangan anak berkata begitu, sangat hiba di dalam hati.”
“Mengapa Mande berusuh hati, mengapa Mande menangisnangis?”
“Tentang bapak Anak Kandung, entah hidup entah sudah mati, kabar tidak berita tidak. Anak masih kecil waktu itu, bapak sudah pergi berjalan, sudah besar anak kini, bapak juga belum kembali.
Andai sudah mati bapak anak, dengan siapa kita di sana. Betapa rumit menumpang hidup, kita tinggal di negeri orang, kita tidak sebangsa pula. Mereka bangsa manusia, kita berasal dari mambang. Tidak disangka seperti ini, baiknya kita di sini saja.”
“Akan sansai juga di sini, sakit di sana susah di sini, di sini rumit di sana sulit, entah apa kesudahannya, entah bagaimana nasib kita. Denai akan pergi sendiri, pergi mencari bapak kandung.” Terisak Marintan Aluih, air mata jatuh beriringan, bertambah hancur perasaan, rasa akan belah di dada, berkata sambil tersedu, “Anak denai Mancayo Alam, usah dikatakan dua kali, anak akan pergi
dari sini, meninggalkan mande kandung.
33