Kasih terdorong kepada Anak, tidak dapat dibawa jauh. Mandeh tidak mau ditinggalkan. Jangan disebut sekali lagi, kalau Anak akan berjalan, luluh rasanya darah daging.
Apa yang dikatakan orang banyak, tutup saja telinga Anak, orang edan kita gila, orang pasik kita mabuk. Hiba hati badan denai, Anak pengganti bapak kandung.”
Melihat mande berhiba hati, Mancayo menekurkan wajahnya. Ia sudah kehabisan akal. Apa yang mau dikatakan, jika mande berusuh hati, membuat mande menderita. Ia pun berkata waktu itu, “Jika begitu kata Mande, denai hanya menurut saja, kini denai akan ke gelanggang, ingin bertanding sepak raga, banyak berkumpul anak mambang, beramai-ramai di lapangan, bertanding rudus bermain pedang, bertanding memacu kuda, kini denai akan ke sana.”
Sesudah Mancayo turun, langsung naik ke punggung kuda, kuda belang baroaci, kepalanya menyapu tanah, keningnya menggosok badan, lenguhnya seperti diimbau, kakinya putih keempatnya, berpelana emas tali sutra.
Sudah melenguh-lenguh kecil, berjalan di jalanan raja, genta berbunyi waktu itu. Tingkah bertingkah bak talempong. Terlena hati yang mendengar, angkuh berpekasih dan pitunang.
Beberapa anak dewi-dewi, serta mambang dengan peri, menjengukkan kepala keluar, tergerai rambut yang panjang, kejar berkejar di atas anjung, kusut benang ditinggalkan, mendengar genta kuda si Mancayo. Berebut gadis hendak melihat, orang gagah bukan kepalang, rebutan gadis dalam kampung. Melihat pakaian si Mancayo, baju berbahan beludru, pakaian orang di surga, ditenun anak bidadari, sutra kusut baju sudah selesai, tidak akan dapat ditiru lagi.
Sibirnya berbalut benang emas, intan dan pudi15 berjejeran, heran tercengang memandangi, pagi-pagi merona kuning, tengah
15) Mutiara
35