Lompat ke isi

Page:Puti Marintan Aluih.pdf/48

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah diujibaco

hari warnanya hijau, sore hari warna lembayung, jika dilipat sebesar kuku, jika dikembang selebar alam, heran memandang semuanya.

Terbang balam membubung tinggi
Hinggap di atas pintu jendela;
Jika malam menjadi mimpi
Melepas niat dengan doa.

Entah sudah berapa lama, Marah ingat dengan anak, serta dengan Marintan Aluih. Sudah lama ditinggalkan, sudah berbilang musim dua tahun. Kini rindu berbalik pulang, melihat anak di atas gunung, tentu dia sudah besar kini, Mancayo Alam pasti gagah, menjadi rebutan para gadis.

Mata yang tidak bisa tidur, siang dan malam dimabuk rindu, serasa bertemu di rasian, berkelakar di dalam mimpi. Tidak tertahan rasa hati, ingin mengunjungi anak kandung, akan dibawa ke atas bumi, supaya dilihat mande kandung.

Adalah pada suatu hari, Marah Baganti pun berangkat, melalui lebuh yang panjang. Lepas dari labuh yang panjang, menuju rimba belantara,

Setelah lama diperjalanan, letih mendaki dan menurun, sampailah Marah Baganti, di telaga Pincuran Puti. Gelak tersenyum Marah Baganti, tersenyum ke diri sendiri, badan yang kasar menjadi halus. Betapa canggung dirinya, gamang tak ada yang memegang, Marintan Aluih tidak di samping.

Dia pun masuk ke dalam air, lalu mandi berkecimpung. Terasa sekali perubahan, lalu berkata ke dirinya, ‘Sudah halus badan diri, badan seperti bayang-bayang. Sudah lama tidak ke sini, kini teringat anak kandung, sudah besar dia sekarang, rindu ingin segera sampai, di rumah Puti Marintan Aluih.’

Dia belum sempat keluar, dari telaga puti itu, terdengar olehnya langkah kuda, beserta teriak dan hardikan.

37