Lompat ke isi

Halaman:Puti Marintan Aluih.pdf/50

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah diujibaco

“Siapa yang kurang ajar ini, keluarlah dari telaga, jika masih enak buah jerami.”

Mendengar kata sekasar itu, tersirap darah di dada, seperti dimaki dan dihina. Ditahannya emosi memuncak, kemudian ia berkata, “Wahai anak muda yang datang, tidak usah berkata kasar. Saya bukan anak kecil. Menyapa tidak bersopan santun.”

Konon orang yang datang itu, ialah Mancayo Alam, tidak kenal dengan bapaknya. Begitupun Marah Baganti, tidak tahu dengan anaknya.

Melihat orang rupa orang itu, angkuh seperti ingin melawan, Mancayo Alam menjadi marah.

“Janganlah banyak bicara, di sini telaga larangan. Mengapa Tuan mandi di sini, tidak Tuan mendengar berita, ini negeri orang bunian, patut kiranya Tuan dibunuh, atau dibuang ke dalam kawah.”

“Bukannya denai orang bodoh, bukannya denai tidak tahu. Denai berniat datang ke sini, ada maksud yang hendak dituju. Itu sebab saya kemari, tubuh yang kasar akan halus.”

“Tuan yang lantas angan saja, patutlah Tuan dibunuh, begitukah adat orang di dunia, lalu lalang di negeri orang, tidak mau minta permis, kalau di sini berpantangan.”

Mendengar kata seperti itu, emosi Marah Baganti memuncak, lalu keluar dari air. Kesabarannya sudah hilang, orang muda itu sangat kasar, tidak patut seperti itu, belum diperiksa dan ditanya.

“Jika memang telaga larangan, apakah tanda pelarangannya, adakah pancang yang ditegakkan. Ataupun panji yang berkibar. Sekarang menyapa tidak sopan, apalagi ke orang tua. Tidaklah patut seperti itu.

Mengapa Anak sekasar itu, jika kami orang dunia, tamu datang tikar dikembang. Kalau ada orang yang datang, masuk ke kampung

39