kita, patutlah disambut dan ditanya, itu tandanya orang beradab, tidak patut seperti ini. Walau Orang Muda tinggi besar, denai orang tua tidak berdaya, jangan dikira denai takut. Setapak turun dari jenjang, sebelum bertemu yang dicari, belumlah denai berbalik pulang. Jangan berkata sekasar itu, denai orang di sini juga, punya karib dan kerabat, jika tidak ada alasan, mengapa denai datang ke sini.” Mendengar kata seperti itu, melompat Mancayo Alam. Disentakkan pedang janawi, berteriak menghantam tanah. “T idak usah banyak bicara, jika Tuan orang bagak, perlihatkanlah keberanian, rasakanlah tangan denai ini.” Marah Baganti pun bersiap, sama berpedang keduanya. Saling bergantian mendorong, saling pukul dengan pedang, sama-sama tangkas keduanya. Lenyah semak belukar, beberapa kayu patahpatah, ada yang putus kena pedang. Bunyi pedang berdencingdencing, bunyi tanah berdembun-dembun. Perkelahian yang seimbang. Sama hebat keduanya. Setelah pedang patah-patah, bertukar dengan keris. Karena lama berkelahi, Mancayo Alam sudah letih, yang bukan alang kepalang. Tapi karena hatinya keras, dan dirinya masih muda, belum pernah kalah di gelanggang, dia tidak mau mundur, bertambah tinggi emosinya, mukanya merah menyala. Tuhan berbuat sesukanya, Mancayo Alam sudah salah, ketika mengambil langkah. Sementang pun begitu adanya, Marah Baganti menahan diri, hanya gelak mencemooh. Hiba hatinya melihat, anak muda yang gagah menawan, jika mati anak ini, betapa sedih mande bapaknya. Marah terpikir hal itu. Mendapat cemooh seperti itu, hatinya menjadi panas. Ia
lupa akan dirinya, mendorong terlalu kuat.
41