sangat malu di hati mandeh.
Satu hal lagi wahai anak, yang dua puluh dua itu, hendaknya terang-terang kabur, dipahami satu per satu, bertinting dedak di niru, hendaknya jelas satu-satu, kalau untung ditakdir Allah, selamat saja pekerjaan kita.
Agar senang hati Buyuang, pergilah berjalan hilir mudik, jangan takut keluar modal, walaupun jauh datangi juga, biar berguna kepandaian, jangan hanya dibawa tidur, jangan dibawa makan kenyang.
Jangan seperti orang kini, gila deta dan seluk saja, kita penghulu kata orang, malah orang menghimbau datuk, kuduk hangat hatipun besar, labu dan kundur tak berbeda, tidak tahu dengan ukuran, tidak tahu adat dengan limbago, hukum syarat jauh sekali, kalau betul-betul berguru, nak pandai sebatang rokok, nak malin sagalok dama 12.
Dalam pikirannya sendiri, dirinya tahu semuanya, kaduik panuah uncang13 pun penuh, lengkap ilmu kepandaian, pada siapa lagi berguru, kita hebat semuanya, pandai melakukan apa saja, pandai diadat dan limbago, tahu dicupak dengan gantang, tahu dengan undang duapuluh, pandai mengaji basa-basi, bunyi mulut merendang kacang, bunyi kata membakar buluh.
Kalau berunding dengan si bingung, mulut tidak dikunci, berguna lidah yang tak bertulang, seperti orang menembak tebing, diperbesar bungkus rabak, diperbaiki bungkus garam, omongan besar pikiran kurang, tidak berisi di kepala, rundingan banyak indak bapaham, tidak tentu apa maksudnya.
Kalau bertemu dengan yang pandai, orang yang berilmu banyak, sudah malang nasib kita, hanya diam-diam saja, suara menjadi gagap, bak buni agung tertungkup, semangat menjadi hilang, rahasia dihimpit orang, seperti itik tengah gelanggang, seperti kucing dibawakan lidi, berkata lidah jadi kelu, berunding merasa takut, dada seperti diguncang gempa, peluh turun sampai ke hidung.
12) menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh
13) kantong
89