Lompat ke isi

Halaman:Rancak Dilabuah.pdf/102

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah diujibaco

Oi Nak kandung sibiran tulang, kalau perangai seperti itu, itu pantangan orang tua, jangan dipakai sifat tersebut, selain itu wahai anak kandung, kabar angin mandeh dengar, entah iya entah tidak, tumbuh di tengah perhelatan, paling berpaling panyambahan,15 beradu kepandaian lisan, bisik terdengar sama duduk, berkedip mata sesama kawan, tajam mata bukan kepalang, melihat salah si tuan rumah.

Kalau ada yang dirasa kurang, seperti juadah di atas dulang, kalau kurang agak semacam, betapa marah dan rungutnya, tegak berdiri telinganya, seperti kerbau baru ditangkap. Berapa belalak matanya, seperti orang demam panas, tegak berdiri panyambahan, disuruh lengkapi kekurangan, itu menentang perut kenyang, itu menentang puas minum, sekali-kali jangan dipakaikan, rakus dan tamak namanya, berlebih dari yang patut, itu namanya sementang-mentang.

Selain dari pada itu, yang mandeh dengar-dengar juga, berlebih hidangan dua tiga, tidak kembali ke tuan rumah, menjadi untung pendapatan, disantap dimakan saja, sedikitpun tidak disisakan, berkedipan dengan kawan, betapa gelak dan candanya, cepak cepong di kampung orang, suka hati bukan kepalang.

Kalau berperangai seperti itu, dimana adat limbagonya, dimana teladannya akan ditiru?

Cobalah anak pikir-pikir, anak baru denai ajari, belum tahu adat limbago, belum mengaji tentang ukuran, belum mengaji basabasi, adakah patut seperti itu, yang mande katakan tadi? Kurang jamba agak sebuah, dihitung salah betulnya, kalau berlebih jamba orang, tidak diangkat pasambahan, didiamkan saja sambil gelak, itu bernama cerdik buruk.

Dalam pikiran hati denai, salah dengan undang yang delapan, sebab tak ada artinya, salah saja kata denai.

Menyangkut tentang basa-basi, tentang tingkah dan lakunya, jangan dipakai yang seperti itu, kalau dilihat korong dan kampung,

14) pidato adat

91