Menjawab Sutan Samparano, “Kalau begitu kata Mandeh, denai jujung di kepala, denai pikul di atas bahu, berjalan denai sekarang, Mandeh tunggulah di atas rumah.” Lalu pergilah Sutan memanggil, seperti yang disuruh Mandehnya, seorang pun jangan tertinggal.
Lalu datanglah waktunya, tibalah helat di tengah rumah, sudah datang Pakih Candokio, lengkap dengan hantarannya. Sudah kawin Siti Budiman, dengan Pakiah Candokio, seperti ketiding dan lanjungnya, bak dulang dan tudung saji, sudah selamat sempurna.
Berkata Siti Juhari, kepada tamu yang datang, “Manalah datuk ninik mamak, atau penghulu dan andika, serta yang empat jenis, imam-katib-bilal-maulana, baik dubalang dan ampang lima, sekaitan niat dan nazar ambo, menyangkut Siti Budiman, sudah selamat sentosa, dengan Pakiah Candokio.
Satu hal lagi yang terasa, menyangkut Sutan Samparano, kalau akal sudah setunjuk, pikiran sudah seruas, budi bicara sudah semiang, pengajian sudah selampis, walau tak sama dengan yang banyak, tapi masih bisa mengikuti.
Hanya sedikit yang merusuh, sukunya belumlah padu, gelangang belum dipecah, rumah belum bertungganai, kampuang belum dipertua, dia belum berpusaka, mulai dari sekarang, berdiri agar tidak tersundak, melenggang agar tak terhempas„ Si Buyuang Sutan Samparano, kita jadikan dia penghulu, itu maksud badan diri, kembali ke sidang yang hadir.”
Mendengar kata seperi itu, menyahut orang banyak, “Kalau begitu kata Mandeh, kami sudah berkeingin juga, kalau Sutan Samparano, panjang rasanya ingin dipotong, singkat seperti ingin diulas, kami yang sedang rapat, semufakat saja semuanya, seperti pepatah orang tua, sekali merangkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui, sekali membuka dompet, empat lima hutang terbayar, hanya saja yang perlu, apa gelar pusakanya, Mandeh terangkan kepada kami.”
99