Menjawab Siti Juhari, “Kalau itu yang ditanyakan. Tentang gelar pusakanya, amanat yang ambo terima, pusaka yang ambo tolong, pusaka yang ambo bangun, gelar yang ambo berikan, Datuak Naraco Lauik Budi.
Kalau panjang yang berkaratan, kalau besar yang bersibiran, kalau bulat yang berkeping, kami bak pinang dibelah duo, di nagari Taluak Tandiang, lingkungan baris di Kampuang Bayang, sudah sampai pusaka di sana. Datuak Naraco Bungka Samo,” tambah Siti Juhari.
Menjawab orang yang banyak, “Kalau begitu kata Mandeh, maklumlah kami semuanya, kata pepatah Mandeh juga, jernih ibarat mata kucing, datar seperti lantai papan, halus seperti dinding cermin, kami lewakan gelar tersebut, agar dikabulkan kiri dan kanan, agar tahu orang hilir mudik.”
Musyawarah di tangan helat, sudah sekata semufakat, tegak berdiri Ampang Limo, bergelar Gagok Panjang Pikia, orang yang baik di negeri, sampai ada sumpah setianya, dibacanya pula bisa kawi, semua yang rapat mengiyakan. Sama diusapkan tangan ke muka, menerima dengan senang hati. Setelah selesai helat itu, jamuan pun dihidangkan, sesudah makan dan minum, hari sore tamu pun turun, marapulai tinggal di rumah. Allahurabbi besarnya hati, pada waktu masa itu.
101