MENJADI PENGHULU
Habis hari berganti pekan, habis pekan bulan pun timbul. Sampai sebulan dua bulan, hujan teduh, kabut pun terang. Sudah mulai menyingkap sayap, dikirai setiap helai bulu.
Berpikir mandeh Siti Juhari, kalau sudah jadi penghulu: berakal tapi sedikit, berbudi tapi seembun. Kalau mengaji sudah pandai, berkata lidahnya panjang, tapi bak burung bunyi, bunyi bak bunyi batang padi. Ilmu belum dikatam, paham belum disudahi. Lalu diimbau anak kandung.
“Manalah Buyuang anak denai, Datuk Naraco Lauik Budi, marilah duduk dekat mandeh. Perbaikilah niat diri. Akan mandeh lepas tangguk rapat. Diri sudah jadi orang tua, sudah penghulu kata orang. Baik-baik mendengarkan apa pun yang mandeh sampaikan.”
Mendengar kata seperti itu, menjawab Datuk Naraco, “Kalau begitu kata Mandeh, akan denai pegang erat-erat, denai pegang teguh-teguh.”
Menyangkut Siti Juhari, dia memulai rundingannya. “Manalah Anak Kandung denai, kita sempurnakan ilmu anak serta paham yang diajarkan.”