Lompat ke isi

Halaman:Rancak Dilabuah.pdf/120

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah diujibaco

“Yang delapan, Mandeh bagi, terkunci dalam dua tempat. Kalau tersangkut pada yang tinggi, kalau terletak pada yang besar. Kalau yang tinggi, kata Mandeh, itu namanya Kitab Allah serta hadis dan dalilnya. Adapun yang besar, kata Mandeh, menurut denai itulah adat. Tiap sesuatu dengan mufakat, begitu kata makanya suci, begitu makanya sempurna. Kalau tidaklah begitu, sia-sialah jadinya.

Manalah Mandeh kandung denai, begitulah pikiran denai. Sudah diterangkan kepada Mandeh, begitu juga artinya. Apakah sesuai pada tempatnya? Karena Mandeh hanya tersenyum, apakah salah dan janggalnya?”

Mendengar kata seperti itu, menjawab Siti Juhari, “Oi, Anak kandung sibiran tulang, makanya denai tertawa kecil. Betapa senang hati denai mendengar Anak berbicara. Elok pepatah dan petitih, seperti bunyi aguang dan talempong, sebagai rabab dan kecapi. Elok bunyi, senang telinga, lemah lembut didengar orang.

Dengarkanlah, wahai Anak kandung, sepanjang kata Anak itu. Kalau kena tentulah kena, kalau lurus tentulah lurus, tapi belum tepat betul. Tersinggung-singgung di pucuknya, teraba-raba di daunnya, belum bertemu dengan tampuknya, tidak terisi di lubangnya.

Sungguh demikian kata Mandeh, adat di zaman masa kini. Limbago diri yang muda mentah. Asal gayung akan bersambut, asal kata bisa dijawab, hanya jawaban sementara menunggu pikiran akan tiba. Sudah tepat itu, Anak kandung, tapi seperti titik di dalam air, tak sampai salam pada pasir, hanya terapung-apung saja.

Manalah Anak kandung denai, simpan betul di dalam hati. Cobalah ingat wujud Allah, janganlah banyak angan-angan, pikiran jangan bercabang. Picingkan mata Anak kandung, wujud satu pikiran bulat.

Denai ajar dengan sindiran, denai kias dengan pepatah. Binatang menahan palu, kias makanannya manusia. Akan Mandeh uraikan lebih banyak, seperti menjolok manggis lebat. Pilihlah oleh Anak kandung, menggaruk sehabis gaung, meraba sehabis rasa, puas-”

109