“Puaskan mangapuang, pesai-pesai kan memilih. Habis daya, beban terletak, tiba dipaham akal berhenti, kata putus sendirinya. Tidak mendua keinginan lagi.
Jika daya belum habis, jika paham belum tiba, banyak ingin tapi ragu. Budi menunggu akan ilmu, paham berbisik dalam hati. ‘Ilmu belum seberapa, tua belum akan menjadi,’ bersisurut lalu kena. Hawa dan nafsu bersalahkan, budi berpantang kedapatan, paham berpantang kamalingan. Keluh kasah kail yang empat serta anggota ketujuhnya, pancaindra menanggungkan, batang tubuh yang merasai.
Paham insaf paham yang sunyi, paham sangka cenderung hati, paham syak tidak berisi, paham waham membawa lalai, paham yakin ilmu tetap, wujud satu pikiran bulat. Tenang itu seribu akal, dalam sabar benar akan datang. Hemat-hemat didahulukan, berhemat-hemat kemudian.
Paham arif berlawan banyak, paham cerdik mengenali diri, paham mantik mengunyah bangkai, bijaksana tahu dengan adat. Candokio pandai melulur, biopari pantun ibarat, jauhari tahu menikam, budiman mati di katanya.
Jujur di hati, mulut mengatakan. Nyata adat tumbuah di atas, nyata pusaka bagiliran, limbago sifat mananti, undang-undang mengisi kehendak, cupak setelaga penuh, dan gantang “simajo lelo”.
“Oi, Nak Kanduang sibiran tulang, kalau terpilih yang banyak itu, sudah tentu umpat dan tampuknya, sudah dapat Anak melakukan. Seumpama tiga tungku, api bermaksud hendak dimasak. Kalau sudah ada hasil, lada beserta garamnya, itu hal yang tidak mungkin.
Sedangkan Mandeh perempuan, tidak tergamang sedikit pun. Kalau sempit minta dilapangkan, kalau licin mudah gantungan. Kalau Anak jawab pesan Mandeh, Anak juga laki-laki. Nantikan saja takdir Allah, mudah-mudahan umur panjang, dapat karunia Tuhan, sama kita lihat kesudahannya.”
111