Lompat ke isi

Halaman:Rancak Dilabuah.pdf/124

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah diujibaco

“Dengarkan betul, Anak Kandung, tungku yang tiga, kata Mandeh, itulah tamsil dan ibarat. Pertama namanya cerdik, kedua namanya tahu, ketiga namanya pandai.

Terkait yang tiga jenis itu, tidak ditinggalkan salah satu, bernama cerdik, tahu, pandai. Kalau tidak cukup ketiganya, tentu menjadi lebih mentah, berdiang di abu dingin, tidak matang di dua tungku.

Oi, Nak Kandung sibiran tulang, jangan bertemu seperti itu. Kalau adat akan dipakai, baik pun alur akan diturut atau jalan akan ditempuh, walaupun tangga akan ditingkat. Ketahuilah, wahai Anak kandung, seperti adatnya orang salat. Kalau masuk serta tahu, ketahui baris dan maknanya. Jangan bak ayam lepas malam, kian kemari terumbu-rumbu, bak kambing masuk rawa, banyaklah tidak dari mau.

Kalau bertemu yang seperti itu, adat sudah mulai ditinggalkan, bak kayu longgar ikatannya. Jangan disesal, Anak kandung, begitu undang-undangnya, begitu tata tertibnya.

Tidak berguna kata banyak, tidak bermanfaat rundingan panjang. Lebih baik dipintal jadi singkat. Berkat sidingin dan sitawa, tidak karena ramuan, penyakit hilang sendiri.”

Mendengar kata seperti itu, menjawab Datuk Naraco, “Manalah Mandeh Kandung, sepanjang kata Mandeh, banyak bak bintang di langit, penuh bak pasir di tepi pantai. Sudah mabuk denai mendengar, belum tersimpan dikemasi, seperti menggantang anak ayam, seperti menghitung bulu kambing. Agar terletak di dalam kadut, agar tersimpan di dalam peti, agar denai tidak kemari bimbang seperti mengubak isi bawang, coba terangkan oleh Mandeh.”

Mendengar kata yang seperti itu, berkata Siti Juhari sambil menggeleng dan tersenyum, “Manalah Anak kandung denai, menyangkut kata yang banyak itu memang terlampau panjang betul. Runding bak ketiak ular, kata ibarat belalai gajah. Tapi walaupun begitu, runding tidak denai alih, kata tidak denai ganti.

113