dikubik dia pun datang, belum diagah dia tertawa, bak ketiding lepas bingkainya, seperti payung patah kasau, pahamnya bak kambing sakit, karena panjang angan-angan, itulah yang muda celaka.
Arti“muda yang pengusau,” ingatlah pantun orang tua,
Cincin perak dua permata
Cincin tembaga berkilatan;
Sudah ribut sepenuh kata
Adat orang muda kesebutan
Hilir mudik dia menyusah, kiri kanan memecah perang, dari jorong sepanjang jorong, dari kampung sepanjang kampung, barang yang ada ingin menghela, apa yang nampak ingin mengambil, dia ingin semuanya, meminta tidak dengan suka, membeli tidak dengan harga, seperti balam terbang rendah, ayam di lesung dicengkeramnya, itulah muda yang celaka, sebab dimabuk angan-angan
Yang bernama “muda lengkisau,” itulah muda lidah air, sepantun telinga angin, jalan sempit kuda penyipak, mulut keras lari menyimpang, ekor sempit kepala rendah, kulit tebal ajaran kurang, akal busuk itikad jahat, paham tak suka ke yang baik, menyimpan dengki dan kianat, itulah muda yang celaka, sebab takabur dalam hati.
Manalah anak kandung yang berdua, celaka muda sudah disebut, dengarkan juga oleh kalian, denai kaji celaka tua, itu ada tiga perkaranya.
Pertama nyinyir tak menentu
Kedua damuik badak jantan
Ketiga riang-riang asam
Arti nyinyir tak menentu, seperti balam terlampau jinak, mengangguk anguk tabung air, berwarna kili-kilinya, dimabuk kata lemah lembut, runding bak serasah terjun, tidak memberi pengajaran, kata bak bunyi gunung runtuh, tidak nasehat dan
amanat, bertutur berolok-olok, menyimpang mata bisul orang, itulah
123