MENURUTKAN BESAR HATI
Saya kisahkan tentang mandeh yang bernama Siti Juhari, dari Taluak Kiro-Kiro, di dalam kampung Medan Budi, anak Tuanku Rajo Bana.
Kononlah Siti Juhari, karena rajin berguru, serta rajin bertanya, sering mendengar pengajaran, jadi luas pengetahuannya, tahu mudarat dan manfaat, tahu di akhir pekerjaan, tahu rintangan akan menghadang, tahu di hina dan mulia, pandai mengaji basa-basi.
Bapaknya orang yang bijaksana, lalu turun ke anaknya, menggenggam erat petuah, memegang teguh pepatah, sayangnya mereka tidak kaya, hidup tidak berkecukupan, berpadi sepenggal tahun, beras tak sampai untuk dimakan.
Punya dua orang anak, mereka seperti burung balam, ada jantan ada betina, yang tua bernama Buyuang Geleng, yang bungsu Siti Budiman.
Karena waktu terus berjalan, sudah besar si Buyuang Geleng, melihat wajah dan tingkah laku, dari kurenah dan perangai, sudah patut diberi gelar, gelarnya Rancak Dilabuah.
Tapi kelakuan anak itu, susah sekali mengatakannya, anak tidak tahu dengan untung, berhati besar setiap hari, tidak ingat untung dan rugi, orang ke ladang dia bermain, pergi ke sawah kadang-kadang, suka bermain sepak raga, gila melepas layang-layang.
3