Lompat ke isi

Halaman:Rancak Dilabuah.pdf/16

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

Terkadang ingat dengan yang benar, pergi berjualan hilir mudik, kadang berlaba kadang tidak, kalau beruntung jualannya, dibeli rokok banyak-banyak, betapa lentik jarinya, asap mengepul ke udara, berpulun-pulun ke atas langit.

Kalau berbicara sama besar, suka menyombongkan diri, tertawa suka berlebih-lebih, mulutnya tidak berkunci, bertabuh di ujung lidah, bergendang di ujung bibir, kata tak sesuai keadaan, gunung akan dilangkahi, bukit serasa dipersunting, ke Aceh berbalik hari, ke Jawa berulang makan. “Tidak dulang di balik bawak1, haramlan orang seperti awak.”

Setelah bermain hari petang, pulang ke rumah mandeh kandung, diminta nasi dan kopi, seusai makan dan minum, lalu ke rumah induk semang, itu kerjanya siang dan malam.

Hari menjelang awal bulan, tidak punya uang di saku, mandeh kandung sudah nyata miskin, namun tetap riang gembira, agar tidak merasa malu, agar hidup seperti orang, biar terjual dan tergadai, tidak peduli apapun.

Pergilah ke rumah orang kaya, meminjam uang secukupnya, dibuat janji dan ikatan, ia berjanji enam bulan, uang yang dua menjadi tiga, sepuluh menjadi lima belas. Dibeli pakaian sepertegak, dapat sepatu tidak berkaus, besarnya hati bukan kepalang, kerbau tergadai tidak diingat.

Menjelang hari lebaran, sibuk menajin dan menyetrika, sambil membentuk bentuk deta, sehabis puasa tiga puluh, pergi ke rumah mandeh kandung, setelah minum dan makan, berkata Siti Juhari, “Oi Anak Kandung Rancak Dilabuah, orang sudah berbondong-bondong, bendi sudah menderum-derum, cepatlah anak bersolek, agar denai lihat denai pandang.

Menyahut Rancak Dilabuah, “Kalau begitu kata mandeh, denai2 segera berpakaian.”


1) belulang
2) saya

5