Lompat ke isi

Halaman:Rancak Dilabuah.pdf/18

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

Lalu dia berpakaian, disarungkan celana panjang, dipakai baju gunting keling, baju terawang putih halus, dipasang sisamping3 bugis kasar, deta terteleng di kepala, pakai sepatu kulit mengkilap.

Berkata Siti Juhari, “Oi Buyuang Rancak Dilabuah, dengarkanlah oleh anak, seperti pantun yang tua-tua,

Kalau dibenang benang juga
Elok sutra ke gulungan;
Kalau dipandang-pandang juga
Elok dijadikan ke junjungan.

Agar dua pantun seiring,
Anak unggas makan tanaman
Makan buah sari mencari;
Dipandang anak di halaman
Disangka anak bidadari.

Jika melihat orang yang banyak, yang tak tahu dinasib denai, heran memandang anak kandung, disangka orang jaksa juri tulis, orang menyangka penghulu dan manti, angkuh seperti tuanku laras.

“Oi Anak Kandung Rancak Dilabuah, dari mana mendapat uang, untuk pembeli pakaian anak?”

Menjawab Rancak Dilabuah, “Kalau itu yang Mandeh tanyakan, denai5 pinjam ke orang kaya, dibuat janji dan ikatan, lalu berjanji enam bulan, uang yang dua jadi tiga, sepuluh jadi lima belas, sawah dan kerbau saya gadaikan.”

Mendengar kata seperti itu, menangis Siti Juhari, “Oi Anak Kandung sibiran tulang, inilah anak yang tak berhati, inilah anak tak berjantung, hati bersisik bak pelapah, jantung seperti jantung pisang, telinga bak kuali dikungkung, mulut seperti takal dijemur, seperti pantun yang tua-tua.

Terteleng biduk orang naras
Orang Bayua berbiduk-biduk;

3) kain hiasan dipinggang

7