Lompat ke isi

Halaman:Rancak Dilabuah.pdf/20

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah diujibaco

Kuning bak sirih raras
Tak ingat layu ditampuk

Padi di ladang perumpatan
Batang selibu yang dikisai;
Hati gedang anak turutkan
Tidak ingat mandeh akan sansai,

Inilah nasib si badan diri, sebab badan sedang miskin, hidup seperti induk ayam, mengekas maka mencotok, sandal tipis karena berdagang, kadang makan kadang tidak.

Lihatlah nasib badan denai, karena banyak pikiran, kulit seperti kulit pari, badan kurus menjunjung ketiding, kaki naik kepala turun, kalau nyampang badan sakit, kita mati kelaparan.”

Mendengar kata seperti itu, menjawab Rancak Dilabuah, “Dengarkan wahai Mandeh Kandung, ibarat pantun yang tua-tua,

Minum dan makanlah tembakau
Tiup tembakau agak sepinang;
Dunia akan denai kusau
Sebelum nyawa badan hilang.

Mendua kuda diracak
Beri tali berpelana;
Masa muda dunia dikacak
Kalau tua apa gunanya.”

Mendengar kata seperti itu, menjawab Siti Juhari, “Tolonglah Anak pikir juga, tidak seorangpun seperti anak, serupa penghulu dan manti, seperti jaksa juru tulis, angkuh serupa tuan laras.”

Menurut pendapat denai, jika bertemu orang di jalan, mereka tidak akan bertanya, semua orang sudah tahu, sansai nasib badan diri, tunduk menekur orang melihat.

Kalau anak terbelakang, tidak tanggung cibir orang, tidak tanggung cemoohnya, pepat lidahnya karena bergunjing, pendek

9