Lompat ke isi

Page:Rancak Dilabuah.pdf/22

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alun diujibaco

hidung dan bibirnya, sibuk mencibir anak kandung, Oi Buyuang Rancak Dilabuah, menurut pendapat denai, beli pakaian yang biasa, tak seperti yang Buyuang pakai, suka denai memandangnya, kalau kita kelaparan, sudah takdir dari Allah, bukan karena kelakuan, bukan karena congkak diri. Seperti kata anak tadi, sementara hidup akan dicoba, sebelum nyawa hilang di badan, itu yang mandeh katakan, siang menjadi angan-angan, malam menjadi si buah mimpi. Tapi sementang pun begitu, akan senang hati denai, cukup padi untuk dimakan, cukup beras untuk ditanak, bawalah kawan dua tiga, denai tanak nasi putih, dibuat beragam gulai, diperbanyak ragam juadah, sesuatu sudah ditempatnya, alah dirasuak manjariau31, sudah dikasau lekat atap,” kata Siti Juhari. Menyahut Rancak Dilabuah, “Kalau begitu kata Mandeh, melaratlah badan ini, akan sansai badan denai, tidak terlihat muka orang, tidak terlawan sama besar. Tidakkah Mandeh merasakan, semasa Mandeh muda dulunya? Lihatlah ke tengah jalan, seiring mereka empat lima, serentak saja perjalanan, menderam bunyi sepatunya, bak belanda pulang berbaris.” Menjawab Siti Juhari, “Oi, Nak Kandung sibiran tulang, tidaklah mandeh melarang betul, kalau begitu yang baik, kalau begitu yang diinginkan, usahlah diperdebatkan. Orang Sala biar disalanya Orang Magek rami di gelanggang; Orang kaya biar dikayanya Yang miskin turut di belakang. Satu hal lagi wahai anak, jika tidak berpencarian, cobalah anak pikir-pikir, rusak sepatu yang sepasang, lusuh pakaian yang di badan, patut diganti dengan yang baru, darimana uang pembelinya? 4) sesuatu sudah pada tempatnya

11