Allahurabbi masa itu, bukan kepalang besarnya hati, seperti diambung-ambung cigak5, entah di bumi entah di langit, serasa di atas awan biru, hati sedang kembang kempis, badan sedang muda mentah, sombong ke sana sombong ke sini, congkak ke sana angkuh ke sini, terasa gagah si badan diri, tangan diletak di tepi bendi, geleng kepala seperti sepatung, pandangan tinggi ke udara. Orang lalu tak disapa Hina dan mulia tak dihiraukan; Tua dan muda tak disapa Badan terasa sangat tampan Setelah sampai di tengah pasar, turun dari atas bendi, lalu masuk ke dalam pasar, dijalani hilir dan mudik, sampai dibujur dilintangi, seperti elang akan menyambar. Jika bertemu sama besar, betapa angguk dan lenggoknya, bukan kepalang kecak pinggang, diperbanyak kerdipan mata, badan disangka sangat hebat, tidak mau melihat orang. Sampailah hari yan ketujuh, itu hobinya petang dan pagi, yang tak puas dengan menggaya, yang tak pasai berpakaian, anganangan sebesar gunung, semuanya seakan direngkuh. Semua pasar didatangi, tiap yang ramai sudah ditempuh, karena lama kelamaan, sudah kering isi saku, merokok sudah dikurang-kurangi, berbendi sudah berhenti, lusuh pakaian di badan, usang sepatu yang sepasang, hutang yang dulu harus diganti. Jatuh tempo sudah datang, di situ hilang akal dan budi, tak ada uang untuk membayar, sesal tumbuh rusuh pun datang, sudah sempit rasanya pikiran, mengeluh Rancak Dilabuh, baru ingat dengan yang benar, menyumpahi diri sendiri, badan malang yang badan celaka. “Betul yang dikatakan mandeh, mengapa hati tak menurut, kalau tak sombong badan diri, tidak ini yang akan terjadi.” 5) senang berlebihan
15