Dipikir betul di dalam hati, dihilangkan rasa malu, lalu diturut mandeh kandung, disusun jari yang sepuluh, dihujamkan lutut yang dua, ditekurkan kepala yang satu, menyembah ke mandeh kandung. “Ampunkan denai Mandeh Kandung, betul juga kata mandeh, sedikitpun tidak ada yang salah, kini saatnya sudah terjadi, sudah sesak nafas karena hutang, orang menagih tak berhenti, tidur yang tidak tertidurkan, walau lapar tak mau makan, sesak bumi tempat berpijak, tak ada tempat untuk berdiri. Dari sekarang hingga ke depan, akan denai ubah perangai, denai ubah kelakuan, dipegang erat ucapan Mandeh, denai junjung perintah Mandeh, ajaran Mandeh denai turuti. Tolong bayarkanlah hutang denai.” Mendengar kata seperti itu, menyahut Siti Juhari, “Oi Anakku Rancak Dilabuah, jangan mengadu kepada mandeh, sementara anak masih muda, baiknya dikusau dunia ini, cobalah semuanya dahulu, habislah akal dan budi, seperti kata orang tua-tua., Sejak semula denai katakan Tidak disimpan di dalam hati; Pandan dan banto melandungkan Badan anak juga menanggungkan. Menyahut Rancak Dilabuh, “Mandeh Kandung ampunkan denai, tepuk dan tamparlah denai ini, maki-makilah oleh Mandeh, sebab denai sudah salah, tingkah laku sudah terdorong. Denai pinta kepada Mandeh, sesat denai mau surut, salah mau untuk tobat, asal hutang Mandeh bayarkan, dari sekarang hingga ke depan, denai bersumpah pada Allah, tidak akan diulangi lagi, denai menurut kata Mandeh.” Mendengar kata anak kandung, Siti Juhari orang penyabar, terasa benar di dalam hati, banyak pikiran yang muncul, anakpun sendiri yang laki-laki, kalau larut pemikirannya, tentu merusak kemudian, lalu berkata waktu itu. “Oi Anak den Rancak Dilabuah,
17