Allah Taala sungguh kaya, dalam waktu setahun itu, sudah berfitrah dan berzakat, sudah berbalik keadaan, berbalas hujan dan panas. Sudah senang hati mandehnya, sawah dan ladang sudah banyak. Sudah cukup padi untuk dimakan, lebihnya usah kita sebut, sudah bagus baju di badan, sudah mau hilir ke mudik, sudah tertempuh helat dan jamu, sudah terjalang balai dan pasar, sudah bisa mengikuti dunia orang, rangkiang6 penuh di halaman, kapuk kecil berisi pula. Tiap hari halaman ramai Banyak orang membeli padi; Duduk mandehnya dengan sukatan Sibuk menyukat-nyukat padi. Karena berkat takdir Allah, masuk tahun dua dan tiga, sudah kuat memakai adat, teguh memegang ajaran agama, tumbuh dialur sudah diturut, tumbuh di jalan sudah ditempuh, kalau limbago sudah dituang7, seiya dengan orang di kampung, ke lurah sama menurun, ke bukit sama mendaki. Karena lama kelamaan, dari bulan berganti bulan, dari tahun behabis musim, Insya Allah takdir Allah, semua bertambah dan bertukuk, itik ayam sudah banyak, kerbau dan banteng pun kembang, beras padi sudah melimpah. Adalah pada suatu hari, di hari yang sangat baik, berkata Siti Juhari, “Oi, anak kandung Rancak Dilabuah, berkat doa kita petang dan pagi, Allah menolong waktu itu, sudah terkabul pinta mandeh, makbul dan mujarat doa kita, sudah berisi perut kita, kita coba mengacak dunia, kita adakan sebuah pesta, mengganti gelar anak kandung. Mendengar kata seperti itu, menyahut Rancak Dilabuah, “Kalau begitu kata Mandeh, denai turut dan ikuti, titah Mandeh denai junjung, denai tak akan mengingkari,” Berkata Siti Juhari, “Kalau Anak sudah menerima, berjalan anak sekarang juga, belilah barang yang disuka, ambil uang lima puluh, 6) lumbung tempat menyimpan padi 7) sesuai alur adat
23