Kalau duduk dengan yang tua, banyaklah runding dan paparan, banyak pituah yang keluar, pepatah banyak diuraikan, salah satu jika terpakai, beruntung anak karena itu, dapat petuah sedang duduk, tidak harus ke rumah guru, belalang dapat karena menuai, ikan dapat ketika ke sawah. Oi anak kandung Rancak Dilabuah, kalau anak sedang berkawan, dengan kawan sama besar, jangan saling mengerjai, setialah kepada kawan, teguh-teguh memegang janji, perjanjian jangan diingkari, kalau malu sama malu, bahaya sama dihindari, begitu adat sama besar, jangan sombong dan berdusta, sekali budi kedapatan, seumur hidup tak dipercaya, takutlah budi akan tejual, takutlah paham akan tegadai. Dengarkanlah betul anak kandung, yang muda harus dikasihi, kalau bertemu dengan yang muda, perbanyak tawa dan canda, dalam sepuluh dua nasehat, untuk bisa dipakai, perlihatkan muka yang jernih, ikuti yang mereka inginkan, seperti menghela tali jala, kalau tegang diperkendur, kalau kendur ditegangi, begitu sayang kepada yang muda, dia dihela dengan benang, bukan dihela dengan tali. Oi anak Rancak Dilabuah, kalau dipakai seperti itu, beban yang berat jadi ringan, jarak yang jauh jadi dekat, dipanggil dia lekas datang, disuruh dia lekas pergi, biar rugi banyak sedikit, uang sedikit jangan dihitung, emas sedikit jangan diingat.” Mendengar kata seperti itu, menyahut Rancak Dilabuah, “Kalau begitu kata Mandeh, denai pegang erat-erat, denai pahamkan di dalam hati, tidak akan denai ingkari.” Berkata Siti Juhari, “Kalau begitu pikiran anak, senang mendengar dalam hati, kini diganti pengajaran, suatu hal yang dimaksud, yang teringat-ingat juga, seperti duri di dalam daging, seperti tulang di rangkungan, kita laksanakan niat kita, berhelat kita sekarang juga.”
29