Sampailah tiga hari itu, datanglah Sutan Samparano, menepati janji pada mandeh, berkata Sutan Samparano, “Manalah Mandeh kandung denai, dalam pikiran hati denai, yang patut jadi suami adik, ialah Ampang Limo Garang.”
Kalau rupa dan wajahnya, tidak ada salah cacatnya, dia orangnya pemberani, di dalam kampung kita ini, orang segan kepadanya, rasanya cocok untuk adik, tolonglah mandeh pikirkan.”
Menyahut Siti Juhari, “Manalah anak Sutan Samparano, kalau hanya Sutan Ampang Garang, denai tidak suka orangnya, sejak ninik moyang kita, tidak sesuai secara adat, tidak biasa seperti itu, tidak menerima sembarang orang, banyak mularat akan terjadi.
Menyangkut Ampang Limo Garang, lakunya seperti musang jantan, siang tidur malam bertanggang, kalau takut orang karena lahir, di batin umpat beribu-ribu, hina seemas lima kupang, emas dicampur dengan yang buruk, padi disisik dengan hilalang, dunia akhirat kita binasa.”
Menjawab Sutan Samparano, “Kalau begitu kata Mandeh, cobalah Mandeh ikut mencari, cobalah Mandeh timbang-timbang, biar denai ikut menilai.”
Berkata Siti Juhari, “Oi Buyuang Sutan Samparano, kenapa hilang kepandaian, pakailah pikiran anak, kalah dengan perang yang kecil, bedil meletus sekali dua kali, kalau sampai tiga kali tembakan, kalau tidak tepat sasaran, di situ anak baru surut, cobalah cari sekali lagi, denai tambah janji tiga hari.”
Menjawab Sutan Samparano, “Kalau begitu kata Mandeh, denai cari sekali lagi, mohon maklum kepada Mandeh.”
Di dalam tiga hari itu, sudah dapat yang dicarinya. Lalu ditemuinya mande kandung. Berkata Sutan Samparano, “Wahai Mandeh kandung denai, sampai sekali dua kali, tembak ketiga menyudahi, menurut pendapat denai, yang patut jadi jodoh adik kandung, ada seorang yang tangkas, bergelar Bagindo Capek Lago.
37