Lompat ke isi

Halaman:Rancak Dilabuah.pdf/50

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah diujibaco

Kalau dilihat dari romannya, atau kepada pakaiannya, serupa Sutan Malabiahi, patut jadi jodoh adik kandung.”

Menjawab Siti Juhari, “Kalau begitu pikiran anak, denai masih belum mau, kalau Bagindo Capek Lago, orangnya congkak dan sombong, tidak tahu dengan basa-basi.

Denai lihat denai pandangi, jika berunding dengan yang tua, ucapannya lalu lalang saja, sedikitpun punya adab, kata yang tua tak diturut, ajaran yang pandai tak didengar, tak mengikuti kata yang benar, hanya menurut maunya saja, tidak belajar salah dan betul, besar ego berat bibir, walau penghulu yang datang, dia tidak mengacuhkannya, itu pantangan mandeh betul.

Kampung kita sangat sepi, siapa orang yang akan datang? Ayampun tidak akan naik, entah Bagindo sendiri duduk tegak, seperti beruk yang dipaut, hanya malapuak8 lantai saja,” kata Siti Juhari.

Mendengar kata demikian, menjawab Sutan Samparano, “Manalah Mandeh kandung denai, apapun tidak ada yang baik, ke sana tidak ada yang elok, habisah budi pikiran denai, eloklah Mandeh menunjukkan, mana yang baik untuk diambil, akan denai pertimbangkan juga.”

Berkata Siti Juhari, “Kalau begitu kata Anak, dalam pikiran hati denai, sudah denai pertimbangkan, yang patut jadi menantu, keganti ninik mamak kita, yang akan jodohnya, iyalah si Buyuang Sidiak. Bergelar Pakih Candokio, anak Tuanku Bijaksano, kemenakan Datuk Rajo Adia, itu yang mandeh inginkan.

Kalau diuji sama merah, kalau ditimbang sama berat, sesuai gelar dan lakunya, seedaran bumi dan langitnya.

Cobalah anak pancing-pancing, kalau bertemu dengan orangnya, jangan terlalu diikat, merusuk jalan Buyuang lalu, menyereng makanya tiba, sama suka makanya menjadi.

8) menghabiskan usia

39