Jangan anak tergesa-gesa, biar lambat asal selamat, tidak lari gunung dikejar, namun takdir di tangan Allah, lama lambat sampai juga.”
Menyahut Sutan Samparano, “Manalah Mandeh Kandung, kalau dilihat-lihat betul, menyangkut diri anak tersebut, dilihat tingkah lakunya, dipandangi akal budinya, sesuai dengan ajaran Mandeh, tidak ada yang kurang satu pun, itu hebatnya orang tua, pandai mengaji yang tak tampak, pandai menyelam dalam bumi, tidak banyak makan dan minum, tentu akan kurang tidur, karena mengaji hina dan mulia, menghitung tinggi dan rendah, patut badan mandeh kurus.
Sebab itu denai katakan, sudah payah denai memikirkan, tidak terlihat orang tersebut, sekarang ini sebaiknya, bersiap mandeh di tengah rumah, sediakan lapik dan bantalnya, kalau Mandeh lupa tentang itu.”
Menjawab Siti Juhari, “Anak Kandung Rancak Dilabuah, menyangkut keadaan rumah, mandeh maklum tentang itu, tapi ada satu hal lagi, si Upik belum denai ajari, betapa susahnya bersuami, kalau dapat rukun syaratnya, seperti santan dan tengguli, kalau lupa semua itu, seperti alu dicongkel duri, supaya pekerjaan berangsur, denai panggil adik anak.” Rundingan selesai waktu itu.