Lompat ke isi

Halaman:Rancak Dilabuah.pdf/56

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah diujibaco

jangan terlampau amat, terlihat budi oleh yang lain, membungkus tulang dengan talas, menyuruk di bawah lumbung.

Kalau suami tidak datang, atau ia terlambat pulang, jangan mengumpat tentang itu, mungkin dia sedang susah, perlihatkan rela dan sabar, orang sabar dikasihani Tuhan.

Kalau ada yang merisau hati, jika tidak menyenangkan hati, lihatlah suami sedang riang, ketika sedang senang hati, ajaklah suami berkecandan, sambil menyinggung dengan kiasan, kalau suami orang yang baik, ia bisa merasakan, disitu tahu emas atau loyang, cencanglah dengan yang tumpul, jangan ditusuk dengan yang tajam.

Satu hal lagi anak kandung, tentang makan dan minumnya, selalu sediakan oleh anak, tersaji baik di atas dulang.

Kalau anak ingin ke pasar, atau kemana akan berjalan, mintalah izin kepada suami, begitu ajaran agama. Kalau suami sedang pergi, jangan berjalan sendirian, jangan turun di senja hari, atau berdiri di pinggir jalan, salah rupa dipandang orang, luar yang lain dari itu, berjalan dari rumah ke dapur, atau pergi mandi ke tepian.

Kalau menyewa bendi orang, jangan sebendi dengan yang lain, yang bukan suami anak, atau bukan dunsanak anak. Kalau sebendi dengan yang lain, bersinggung kain dengan kain, itu pantangan orang tua, karena mata palingan setan, kalau hati palingan Allah, habis geli karena gelitik, hilang malu karena biasa.

Perempuan kalau tak punya malu, menjadi cacat seumur hidup, seperti pintu tak berkunci, mudah maling masuk ke rumah, atau perahu tidak berkemudian, akan sesat di pelayaran.

“Oi Nak Kandung sibiran tulang, pegang erat pituah mandeh, buhul di dalam ikat pinggang, sebab denai katakan begitu, buruk bukan karena wajah, buruk karena kelakuannya, kelakuan bisa kita ubah, tapi bisa cacat karenanya, aib karena perangainya, perangai bisa diperbaiki.

45