Lompat ke isi

Halaman:Rancak Dilabuah.pdf/58

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah diujibaco

Satu hal lagi anak kandung, mulut jangan berat menyapa, kalau datang orang jauh dekat, naiak ke atas rumah anak, kembangkan tikar yang bagus, hidangkan sirih dengan cerana.

Kalau lalu orang di halaman, baik tua atau muda, jangan dipandang hina mulia, patut disapa dibawa singgah, maniskan mulut dan raut wajah, basa basi tak perlu dibeli.

Jangan seperti orang kini, kalau naik orang ke rumahnya, seperti orang acuh saja, berlaku sombong dan angkuh, perangai yang seperti itu, sangat besar mudaratnya, kerja yang berat takkan ringan, yang jauh tak akan dekat, yang tinggi tak akan rendah, janganlah itu dipakaikan.

Kalau bertemu orang lain, baik di tengah keramaian, atau di tengah perhelatan, pandangan usah ditinggikan, mata tak usah jadi liar, pandanglah hanya sekali saj, usah tawa diperbanyak, binasa yang muda karenanya.

Jangan seperti muda kini, malah seiring sama besar, atau di tempat perhelatan, tidak punya sopan santun, pandangan tidak berketentuan, pandangan bak akan melawan, memperlihatkan keberanian, tertawa seperti menyindir, itulah tanda kurang iman," kata Siti Juhari,

Berkata Siti Budiman, "Kalau begitu kata Mandeh, selama nyawa dikandung badan, petuah tidak denai lupakan, akan dijadikan ajimat, denai suratkan dalam hati, sudah senang hati Mandeh?

Kalau umur sama panjang, sampai kepada cucu dan cicit, denai tunjuk denai ajarkan, seperti petuah Mandeh itu."

Mendengar kata seperti itu, senang hati mandeh kandungnya. "Manalah Upik Siti Budiman, selain dari pada itu, malu dan sopan tak berbatas, basa dan basi tak berhingga, walau dengan suami sendiri, jangan hilang basa basi, santunlah mulut Anak kandung, hormati dia di keramaian, muliakan di tengah rapat, takutlah anak lahir batin, jangan berpikir macam-macam.

47