Lompat ke isi

Halaman:Rancak Dilabuah.pdf/62

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah


Yang bernama mambang taliawan, ialah perempuan tinggi hati, kalau berbicara sama besar, atau berunding di tempat ramai, topiknya tidak ke yang lain, tetapi tentang lakinya, dibincangkan bapak si Upik, disinggung bapak si Buyuang, yang lebih dari orang lain, lebih kaya dari orang, lakinya dipuji hebat, banyak memberi uang belanja, sayangnya hanya untuk rumah, tidak akan pernah berubah, membanggakan uang dan pangkat, susah yang lain menyamai, itu yang banyak masa kini, walau lakinya jatuh hina, jangan disangka tak berhidung, pujinya begitu juga.”

Mendengar kata seperti itu, Siti Budiman pun menjawab, “Kalau begitu kata Mandeh, akan denai pegang erat, diingat siang dan malam, dipersunting bangun dan tidur, jadi pamenan petang dan pagi, denai peluk dengan budi halus, dibungkus dengan seribu akar, disimpan dalam hati yang suci, dikunci di hati mukmim, senangkah Mandeh mendengarnya.”

Mendengar kata seperti itu, berkata Siti Juhari, “Kalau begitu kata Anak, senang hati mandeh kini, berkat Tuhan umur panjang, jika masih manis-manis daging, jika masih pahit-pahit darah, kalau ada anak perempuan, yang akan jadi menantu, janganlah sembarangan saja, jangan dipandang emas dan perak, usah dipandang kain dan baju, jangan dipandang besar orang, jangan diliat elok rupa, lihatlah tingkah lakunya, pandangilah perangainya, kalau emas sama merah, kalau ditimbang sama berat, ingat sebelum kena, jangan menyesal kemudian.”

Sudah banyak orang denai lihat, angan rakus pikiran tamak, berharap dengan orang kaya, harap karena tampan orang, tidak ditimbang-timbang, akhir kejadian kemudian, kalau tumbuh elok dan buruk, terjadi selisih pertengkaran, saling hina menghinakan, saling buruk-memburukkan, di dalam Korong dan kampung, menantu dibincangkan orang.

Kalau beranak dengan dia, anak bermain dengan temannya, kalau terjadi perkelahian, anak berkelahi sama besar, bapak juga

51