Lompat ke isi

Halaman:Rancak Dilabuah.pdf/64

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah diujibaco

disebut orang, terungkap hina dan mulianya, tersebut juga perangainya, tersingsing malu pada kita.

Apa yang terasa di hati, langit yang mana kita junjung, bumi yang mana kita pijak, laut yang mana diseberangi. Diremas hati dikeluhkan, hina tiba sesalpun tumbuh, kalau dicuci sehabis air, kalau dikikis sehabis besi, tak akan lipur oleh hujan, lalu sampai ke anak cucu, anak disebut orang juga.

Mendengar kata seperti itu, berkata Siti Budiman, “Kalau begitu kata Mandeh, pesan Mandeh denai pegang, amanat akan denai pakai, tapi walaupun begitu, kami berdua berdunsanak, seekor jantan seekor betina.

Tentang kakak kandung denai, yang bergelar Sutan Samparano, apakah Mandeh sudah mengajari?Sampaikan semua pesan Mandeh, sepeninggal Mandeh esok, kami sama-sama memegang, agar tidak bertengkar kemudian.

Kalau untung anak mujur, entah jika tuah menimpa, kalau sampai jadi penghulu, banyak rukun yang harus dipunya. Kalau syaratnya terlampaui, tentu mendapat malu besar, binasa adat dengan limbago, apa gunanya badan awak?

Mandeh orang cerdik pandai, tidak lain tidaklah bukan, di dalam negeri ini, Mandeh sorang disebut orang. Sungguhpun Mandeh perempuan, tempat bertanya orang banyak. Sepeninggal Mandeh nanti, hujan dan panas jika berganti, itu yang denai rusuhkan betul.”

Mendengar kata seperti itu, tersenyum Siti Juhari, melihat anak berpendapat, sudah tahu ereng gendeng, sudah ingat awal dan akhir, menyahut Siti Juhari,

“Oi anak Siti Budiman, tentang kata Upik tadi, mandeh ingat juga akan itu, karena umur sudah banyak, menanti hari yang baik, ketika bunga sedang kembang, agar elok masuk pengajaran, supaya cepat diterima, namun bertanam akal dan budi, bukan seperti tampang kacang, kalau tumbuh dalam hati, tidaklah ternilai harganya.”

53