Menjawab Siti Juhari, “Tentang kepada rundingan ini, sedikit yang ambo cemaskan, kalau bertemu hina dan malu, cacat binasa akan jadinya, seperti tak makbul pinta kakak.
Pihak si Sutan Samparano, besar terbawa oleh dagingnya, tinggi terbawa oleh ruasnya, akal belum pendapat kurang, hanya menang digelar saja. Sama dilihat dipandangi, perangainya masih anak-anak, seperti orang sombong diri, terbawa manja sejak kecil, minum dan makan tidak tertib, duduk tegak tertib kurang, basa basi jauh sekali, ereng dan gendeng belum tahu, kita juga yang akan malu.“
Mendengar kata seperti itu, menjawab orang yang datang, “Manalah Mandeh Siti Juhari, kami meminta Mandeh beri, membeli Mandeh perjuali, kalau dipikir kelakuannya, atau perangai dan tatakrama, kalau diingat yang dahulunya, sudah berubah dengan kini, sudah banyak orang mengatakan, tentang si Sutan Samparano, baik budi baik bahasa, pandai bergaul bertutur kata, hatinya baik mulutnya manis, alamnya lapang pahamnya sabar.
Yang tua dimuliakan
Yang besar didahulukan
Yang muda dikasihani
Yang kecil disayangi
Dalam kampung kita ini, tiga bulan kami mencari, sudah bertemu apa yang dicari, tidak imbang dengan gelarnya, hanya pikiran Mandeh sendiri, jangan Mandeh rusuh tentang itu.”
Mendengar kata seperti itu. Menjawab Siti Juhari, “Kalau begitu kata kakak, kami berpikir lebih dahulu, selama dua tiga hari, berbaliklah kakak kemari.”
Menjawab orang yang datang, “Kalau begitu kata Mandeh, senanglah hati mendengarkan, ambo akan pulang dulu, agar senang
hati mamak kami, beserta bapak si Upik.” Lalu orang tersebut pun pulang.
57