Tidak beberapa lama, berkata Siti Juhari, memanggil Sutan Samparano. “Manalah Sutan Samparano, sudah datang orang kemari, si Suri Tiru Piliehan, orang Teluk Balunan Ombak, Kampung Dalam Talago Manih.
Dia ingin menjemput anak, menjadi suami si Upik Ketek, yang bernama Puti Cito Dunia, kemekanan penghulu beradat, Datuk Timbangan Haluih Paham, anak Tuanku Taguah Iman, Mualim Saha Palito Hati, Sukakah anak menerima?’
Menjawab Sutan Samparano, “Manalah Mandeh Kandung denai, menyangkut persoalan itu, denai bicara cuma sekali, semuanya terserah Mandeh, tapi sungguh pun begitu, denai mengatakan yang terasa.
Tolong lah Mandeh pikirkan, denai masih muda mentah, akal kurang pendapat belum, pemikiran belum terpakai, buruk budi dilihat orang, Mandeh juga mendapat malu, sungguhpun begitu kata denai, harap maklum kepada Mandeh.”
Menjawab Siti Juhari, “Oi Nak Kandung Sutan Samparano, menurut pikiran mandeh, kalau itu orang yang datang, pucuk dicinta ulam tiba, batang tersandar pada gunung, urat terunjam ke akar bumi, kalau tak datang kita menjemput, kalau tak mau kita paksa, diterima dengan senang hati.
Sudah denai pikir-pikir, sejak asal dan usulnya, sampai kepada nenek moyangnya, juga tentang diri bapaknya, Mualim Saba Palito Hati, kalau diuji sama merah, kalau ditimbang sama berat, patut anak pulang ke situ,” kata Mandeh Siti Juhari.
Menjawab Sutan Samparano, “Kalau begitu kata Mandeh, perintah Mandeh denai turuti, tidaklah denai menyanggahi.”
Karena lama kelamaan, sudah sampai janji tiga hari, datanglah orang yang dahulu, si Suri Tiru Piliehan, sudah selesai minum dan makan, kemudan si Suri berkata, “Manalah Mandeh kandung denai,
ambo datang kembali kemari, mengulang kata yang dahulu.”
59