Setelah dua tiga hari, berangkatlah Siti Juhari, ke rumah Tuanku Bijaksano, dijenjeng sebuah kaduik, berisi sirih dan pinang. Telah bertemu waktu itu, makan sirih yang sekapur, sarinya naik kemuka, habis manis sepah dibuang, kelatnya tinggal di rangkungan.
Berkata SIti Juhari, “Manalah Tuanku Bijaksano, maksud ambo datang ke sini, seperti kata Tuan juga,
Siang jadi angan-angan
Malam jadi buah mimpi
Maksud sengaja dalam hati, hendak menjemput anak Tuan, iyalah Pakiah Candokio, jika untung akan berjodoh, jika ditakdirkan Allah, bertemu ruas dengan buku, hendak menjadi menantu ambo, akan jadi suami Siti Budiman.”
Mendengar kata seperti itu, menjawab Tuanku Bijaksano. “Tentang Pakiah Candokio, sudah banyak orang yang datang, menjemput jadi semenda, seperti kata kakak juga, kalau belum tiba untungnya, tidak denai mau menerima, kini kakak sudah datang pula.
Tentang maksud kakak itu, dalam pikiran hati denai, si Upiak Siti Budiman, dengan si Pakiah Candokio, seperti botol dengan tutupnya, seperti dulang dengan tudung saji, seedaran bumi dan langit, tidak perlu dipikirkan lagi, ambo terima kata itu.”
Menjawab Siti Juhari, “Kalau begitu kata Tuan, senanglah hati mendengarnya, hanya satu yang ambo minta, bersegera kita hendaknya.
Menjawab Tuanku Bijaksano, “Menurut ambo begitu juga, tapi satu hal yang terasa, sungguhpun kita sudah sesuai, semufakat maka menjadi, ambo akan bicarakan dulu, dengan Pakiah Candokio, atau dengan mamak kandungnya, Datuak Juaro Manti Alam, menunggu kakak sebentar.”
Menjawab Siti Juhari, “Kalau begitu kata Tuan, itulah kata
sebenarnya, tapi Tuan ambo sesakkan, sama berjanji kita berdua,
65