ambo akan menantikan, mufakatlah Tuan kini-kini.”
Mendengar kata seperti itu, tentang Tuanku Bijaksano, segera dia bermufakat.
“Manalah Pakiah Candokio, beserta mamak si Buyuang, Datuak Juari Manti Alam, orang datang kepada denai, yaitu kakak Siti Juhari, hendak meminang anak kandung, untuk jadi menantunya, jadi suami Siti Budiman.
Sudah denai timbang lahir batin, serta mudarat dan manfaatnya, sudah denai kaji hina mulia, tidak ada kekurangannya, sudah denai beri pinta orang, tersangkut pada janji saja, rundingan sampai kepada datuk, serta Pakiah Candokio, jawablah kata yang sepatah.”
Lalu menjawablah beliau, Datuk Juaro Manti Alam, beserta Pakiah Candokio, “Kalau selesai kata mufakat, kami tidak akan membantah, menurut pada yang baik, hanya tunggu tiga bulan, mencari barang yang tidak ada.”
Berkata Tuanku Bijaksano, kepada Siti Juhari, “Telah sudah kami bermufakat, minta janji kami dahulu, dua sampai tiga bulan, pada pikiran hati saya, sebaiknya kakak menerima, biar lambat asal selamat, tidak lari gunung dikejar.”
Menjawab Siti Juhari, “Kalau begitu kata Tuan, ambo terima janji tersebut, lepaslah saya berjalan.” Berkata Tuanku Bijaksano, “Insya Allah baiklah itu.”
Berkata pula Siti Juhari, “Satu hal lagi saya minta, sepanjang adat yang dipakai. Biasanya teduh dipayungi, tanda teguh ada pegangannya, yang erat diikat juga, lebih baik kita bertimbang tanda, tukarilah cincin ambo, sementara menunggu janji, hidup di dalam tangan Allah, kalau mati di dalam janji, keganti kafan yang selampis, kalau hidup sama mengembalikan, sebab begitu yang biasanya.”
Menjawab Tuanku Bijaksano, “Betul jugalah hal itu,” diambil
cincin ditukari, selesailah bertimbang tanda.
67