Lompat ke isi

Halaman:Rancak Dilabuah.pdf/84

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

Karena berkat budi baik, menjadi tuah pendapatan, jika anak sudah menikah, masuk ke korong kampung orang, masuk ke atas rumah tangga, duduklah di kasur sendiri, peganglah ukuran dan timbangan, pegang kendali diri sendiri, dengan karib kerabat.

Kalau berselisih istri kita, dengan dunsanak saudaranya, atau dengan ibu bapaknya, berselisih dalam satu rumah, terjadi perang saudara, ajarilah dengan kebenaran, marahilah anak dan istri, sambil menunjuk mengajari.

Jangan seperti laku orang, jika berselisih istrinya, dicari akal yang buruk, dibuat asung pitanah, diasung istri sendiri, sampai melawan ibu bapaknya, atau kepada dunsanaknya, pada akhir cerita nanti, semua orang jadi benci, buruk berkumpul kepada kita, jadi gunjingan orang banyak, kalau membungkus bangkai busuk, berbau juga kesudahannya, kalau dunsanaknya sudah benci, kita hanya berdua istri, mertua marah dalam dirinya.

Jangan pernah mengurangi, tentang budi yang merangkak, atau akal yang berpilin, hendak mengambil harta istri, akan dijual digadaikan, jangan lakukan seperti itu, hendaknya dipinjam baik-baik, atau diminta jika boleh.

Jika tidak bisa menambah, janganlah ingin mengurangi, jika tidak punya uang, usaha yang mesti diperbanyak, kalau tidak berusaha, tolong orang dengan perkataan, pergunakan akal pikiran, harganya sangat tidak ternilai.

Oi Anak Kandung sibiran tulang, kalau tidak seperti itu, lebih baik anak membujang saja, menghuni rumah dan dapur mandeh, jangan beristri sampai tua.

Ketahuilah anak kandung, banyak macamnya orang semenda:
Pertama semenda kacang miang
Kedua semenda lalat hijau
Ketika semenda lapik buruk
Keempat semenda kutu dapur

73