Lompat ke isi

Halaman:Rancak Dilabuah.pdf/94

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

Arti penghulu tupai tua, rancak tidak nampak keluar, besar tidak mengetengahi, diri dibawa diam saja, seperti cangkang telur itik, baiknya dibuang saja, tercampak ke balik rumah, tidak kembali naik lagi, itu sifanya tupai tua, tidak tertempuh ujung dahan, diam di tepi bawah saja, kalau penghulu yang kelindungan, helat orang tidak diturut, jalan yang tidak tertempuh, menyimpan segan dan ragu, walaupun undang sudah dikaji.

Arti penghulu “pisak sarawa”, itulah penghulu yang jahanam, hina bangsa rendah martabat, hati busuk sifatnya buruk, budi anyir pikiran aring, akal panjang ingin melilit, panjang bicara ingin mengikat, mulut manis bak tengguli, enak seperti rasa santan, seperti makan pisang masak, elok tipu manis rayunya, tukang cubit tukang pilin, pilin kacang akan memanjat, pilin jering hendak berisi, penipu orang di negeri, penipu korong dan kampung, penjual anak kemenakan, ber-uang di saku orang, tidak mau bekerja keras, itulah penghulu busuk aring

Satu hal lagi anak kandung, jika timbul silang sengketa, ataupun bantah dan kelahi, sengketa yang tak putus, dendam kesumat yang tak habis, terjadi di dalam suku kita, atau di dalam yang seinduk, kalau mengukur sama panjang, kalau menimbang sama berat, kalau cerdik jangan menjual, kalau besar usah ingin melanda, bertindak dengan rendah hati, hilang semangat tuah habis, binasa adat karena itu,

Kalau anak pakai yang seperti itu, bumi hancur langitpun runtuh, tempat bergantung yang sudah patah, tempat berpijak sudah terban, teluk hancur rantau kusut, alamat susah badan diri, hati mabuk badan tak senang.

Kalau sepeninggal mati mandeh, tiap bulu menanggung sakit, karena sudah dimakan kutuk, kena sumpah perbuatan, karena amanat tak dipegang. Satu hal lagi anak kandung, pegang pituah orang tua.

83