Sesudah 6 bulan mereka tinggal di kampung Selasih ada orang Koto Tuo datang ke daerah itu dan diajak singgah oleh Pamato Intan ke rumahnya. Orang itu menceritakan keadaan Koto Tuo selama ditinggalkan Pamato Intan yaitu banyak perampok dan pembunuhan. Bongsu Urai mendengar percakapan orang itu dengan ibunya lalu dia meminta diantarkan ke Koto Lamo tapi ditolak.
Setelah setahun Pamato Intan di kampung Selasih kehidupannya sudah agak baik, di samping bertani dia juga membuka warung.
Pada suatu hari datang dubalang Koto Lamo akan minum kopi di warungnya. Dubalang itu adalah suruhan Raja Angek Garang untuk menjemput Bongsu Urai. Mula-mula Pamato Intan tidak mau menceritakan siapa dia sebenarnya. Tapi percakapan ini didengar oleh Bongsu Urai kemudian keluar dari rumah dan berkata dengan lantang bahwa dialah Bongsu Urai. Setelah lama ibunya bertengkar dengan Bongsu Urai, akhirnya dilepasnya juga Bongsu Urai dengan dubalang itu berangkat ke Koto Lamo. Dia berpesan kepada dubalang agar kepada rakyat Koto Lamo dikatakan bahwa dia telah mati kecuali kepada Mayang Taurai.
Sesudah Bongsu Urai dibawa oleh dubalang, tinggallah Pamato Intan seorang diri. Waktu siang masih banyak kawan untuk bersenda gurau tapi kalau sudah malam badan terbaring sendirian.
Bermacam-macamlah pikiran yang timbul bagaimana nasibnya sekarang. Kemudian dia teringat bagaimana dosanya terhadap kedua orang tuanya ketika dia menolak akan dikawinkan dengan Angek Garang dahulu. Tapi sebelum ayah ibunya meninggal dia sudah minta maaf.
Setelah beberapa lama hidup sendirian, dia berkeinginan untuk pergi ke Koto Lamo karena sudah sangat rindu kepada anak-anaknya terutama kepada Mayang Taurai.
Hal ini disampaikannya kepada orang yang mula-mula menampung dia tapi orang itu melarangnya, akan tetapi karena keinginannya tidak bisa ditahan lagi, akhirnya dia dilepas juga ke Koto Lamo.
Sebulan setelah Bongsu Urai sampai di Koto Lamo dia sudah
15