Lompat ke isi

Halaman:Rangkiang Luluih.pdf/16

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

minta kepada raja agar segera dilaksanakan perkawinannya dengan raja dan permintaannya itu dikabulkan. Waktu akan dilaksanakan perkawinan Bongsu Urai dengan Angek Garang, Mayang Taurai lari dari istana dengan membawa anaknya.

Pada waktu Pamato Intan sampai di istana sebenarnya dia sudah dilarang oleh salah seorang pegawai istana, karena apabila raja sampai tahu dia datang dia akan dibunuh oleh raja, tetapi dia tidak memperdulikan larangan itu biarpun akan mati.

Sesudah masuk ke halaman istana dengan diam-diam dia men- dekati Puti Bongsu Urai yang sedang berada di halaman dan dengan suara lantang dia berkata bahwa dia datang ke sini untuk meminta padi karena kelaparan. Bukan main terkejutnya Bongsu Urai mendengar suara orang ini karena dia kenal betul bahwa suara orang itu adalah suara ibunya. Walaupun Bongsu Urai mengetahui orang ini ibunya namun dengan sikap kasar diusirnya ibunya yang berpura-pura sebagai peminta-minta itu. Karena orang tua ini tidak mau juga pergi maka disuruhnya dayang-dayang mengambil kerak basah untuk diberikan kepada ibunya.

Dengan perasaan sedih dimakannya kerak itu sambil menadahkan tangannya ke langit memohon agar anaknya yang durhaka ini dikutuk oleh langit dan bumi. Belum habis dia bermohon datanglah halilintar menembak rangkiang dan langsung habis ditelan bumi demikian bertubi-tubi sehingga rangkiang itu tenggelam semuanya. Orang-orang pada berlarian dan Bongsu Urai mengejar ibunya akan minta ampun. Kemudian datang suaminya dan dibawanya BongsuUrai ke atas istana sedangkan orang-orang yang berada di istana semuanya turun. Tidak lama setelah mereka hanya tingal berdua dalam istana maka istana itupun tenggelam pula ke dalam bumi. Dari kejauhan terdengar suara Bongsu Urai memanggil-manggil ibunya. Sebarian itu tidak ada orang yang ingin pulang melihat kejadian yang sangat mengerikan itu. Kemudian Datuk Manti Tuo menjelaskan bahwa kejadian ini disebabkan oleh sifat raja yang sangat kejam dan keji sehingga bumi dan langit mengutuknya begitu juga perbuatan dari Bongsu Urai yang durhaka kepada ibunya. Semuanya ini akan menjadi suri tauladan bagi yang muda-muda

16