Lorong kepada Sutan Parmato, berkata pada siGadih Ranti, “Tinggallah Adik dahulu, hamba akan kembali ke Padang, ham ba lekas berbalik pulang,” berkata beriba hati, kasih nan baru tersemat.
Hari sepagi-pagi itu, naiklah bendi Sutan Parmato, serta mandeh dan adiknya, si Rantimengantar dengan mandehnya, serta kawan dua tiga, ramai orang mengantarkan, bak melapas orang ke Mekah, empat bendi dipakainya, kuda berlari bak akan terbang, mengejar kereta pukul delapan, kereta api menuju Padang, serupa bendi di dalam pacuan.
Tak lama diantaranya, sampailah di stasiun Bukittinggi, turun bergegas ke stasiun, adapun mandeh si Salamah, serta Salamah dan Parmato, langsung naik ke atas kereta, tak lama kemudian, berbunyi lonceng tiga kali, berkatalah Sutan Parmato, “Tinggallah mandeh dengan si Ranti.”
Menjawablah mandeh si Ranti, "Usah berlama-lama Sutan di Padang, cepatlah Sutan berbalik pulang." katanya mandeh si Ranti, lorong kepada si Gadih Ranti, melihat suami hendak berjalan, tak dapat menahan air matanya.
Lurus jalan ke Cupak
Bersimpang jalan ke Palupuah
Kekiri jalan ke Pulasan;
Bak api memakan dedak
Didalam hancur luluh
Diluar tak kelihatan.
Jika tak malu dengan orang banyak, ingin sekali ikut ke Padang. Berbunyi lonceng tiga kali, kereta hendak berjalan, adapun si Gadih Ranti, dilihat kereta sampai hilang, hilang kereta dari pandangan, barulah ia berbalik pulang.
Kereta berjalan dengan kencang, dua buah induk mesinnya, kononlah Siti Salamah, tercengang-cengang dalam kereta, bak kerbau dikejutkan agung, asing orang berlain kita, melihat adik seperti itu, gelak sendiri Sutan Parmato.
91