Lompat ke isi

Halaman:Si Gadih Ranti.pdf/104

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

Karena lama lambat di kereta, kira-kira pukul dua, tibalah kereta disatasiun Padang, turunlah semua penumpang, turun pula mandeh Parmato, diiringianak si Salamah, dibawa mandeh ke atas bendi, duduk bertiga di dalamnya, kuda dilecut oleh kusir bendi, kuda pun berlari kencang.

Adapun si Salamah, serta mandeh kandungnya, tak lepas mata memandang, melihat ramainya Kota Padang, tak lama kemudian, berhenti bendi di halaman toko, turunlah Sutan Parmato, sambil berkata pada mandehnya, “Naiklah mandeh dahulu, bawalah Salamah ke atas.”

Heran tercengang mandeh Salamah, melihat besarnya toko itu, dilihat pula di lantai atas, bersusun meja dan kursi, tempat tidur dua buah, ranjang terbuat dari besi, pakai kelambu kain sutra, dilihat pula ke dinding, tampaklah cermin besar, serta jam nan tergantung.

Melihat rupa rumah anak, serupa rumah orang berpangkat, heran tercengang mandeh Salamah, memikirkan kaya anaknya, tak dusta orang berkata, bahwa Parmato sangatlah kaya, dua buah toko besarnya, penuh berisi keduanya.

Lorong kepada mandeh Parmato, serta Salamah adik kandung, dua bulan mandeh di Padang, duduk-duduk bersuka tiap hari.

Adapun si Gadih Ranti, dijemput pula dek Parmato, menetap tinggal di Padang, hidup bersuka tiap hari, setelah dua tahun pambauran, lahirlah anak laki-laki, baru melahirkan si Gadih Ranti, senanglah hati Sutan Parmato, obat jerih peleraideman, si dingin terhampar di kepala.

Berlayar kapal dari Semarang
Banyak membawa kain sutra
Berlebuh tepat di Pariaman;
Begitu kaba kata orang
Dusta orang hamba tak serta
Bohong orang hamba tak sinan.

93