terpikirkan, ada pikiran nan terlintas, mengenai diri si Ranti, dilihat rupa dipandangi, sudah patut ia diberi kawan, jadi suami si Gadih Ranti, bagaimana pikiran si Pakiah, siapa nan patut kita ambil, atau bakonya di seberang, cobalah pandang oleh Pakiah, elok berkarib sesama kita.”
Menjawablah Pakiah Sutan, “Mengenai hal nan Tuan katakan, belum ada orang nan tampak, nan patut jadi junjungan si Ranti.”
Berkata pula si Fatimah, mandeh kandung Gadih Ranti, “Kalau ada nan sepakat, Haji Amin baiknya kita ambil, orangnya kaya sejak dahulu, menurut kaba kata orang, ia bercerai dengan istrinya, kini istrinya tinggal dua, baiknya ia nan kita ambil.”
Menjawablah Datuak Batuah, “Mengenai Haji Amin, sedikitpun hamba tak suka, orang kaya beristri banyak, anak kita gadis kecil, dicarikan orang tua, mentang-mentang ia orang kaya, dijual anak kepadanya, elok nan lain kita cari, pandang anak pandang menantu,“ katanya Datuak Batuah.
“Hamba punya calon kedua, kalau si Katik kita ambil, ia bujangan belum beristri, pandai memakai tiap hari, roman elok mandeh pun kaya,” katanya mandeh si Ranti.
Menjawab pula Datuak Batuah, “Itulah pantangan hamba, orang manja ibu dan bapak, ke sawah ke ladang tak pandai, bujang penggurau tiap hari, kerjanya bermain layang-layang, senang bergurau sesama besar, tak pandai mencari uang.”
Berkatalah Pakiah Sutan, bapak kandung si Ranti, “Menurut pemikiran hamba, ada baiknya si Saman kita ambil, anak dari mandeh Rawani, bapaknya Angku Kali di Subarang, ia berdagang di Padang.
Menurut cerita orang, selepas mengaji di Parabek, semasa ia pergi ke Padang, tak ada modal dari rumah, pencarian di ujung jari, tiap bulan ia berkirim, belanja mandeh dan adiknya.
Tambahan pula anak itu, rajin sembahyang dan mengaji, laku
17