elok perangai baik, rupanya muda romannya elok, budi baik tahu di untung, memang ia orang miskin, bersawah cukup untuk makan, tapi tak berkeluh kesah, pandai hidup dengan mandehnya, bayangbayang sepanjang badan.”
Mendengar perkataan itu, tergelak mamak si Ranti, “Kalau itu carian Pakiah, sama sepaham kita berdua, sama pandangan malah kita, maksud hamba itu juga, anak itu elok laku, beremas di ujung jari, pandai berdagang di tengah pekan, kini berkedai di Padang, eloklah nan masak kita jolok, ditingkat jenjang ditepik bandul, dibawa sirih dalam uncang.”
Mendengar kata Datuak Batuah, senanglah hati mandeh si Ranti, sejuk pikiran masa itu, dicari manti nan piawai, nan pandai berunding kias banding, orang nan arif bijaksana, mulut manis kucindan murah.
Pada keesokan harinya, dipanggillah manti nan piawai, iyalah Uniang si Sariamin, diturutlah rumah si Sariamin, orang biasa jadi manti, pandai bertutur dan berunding, lagi arif bijaksana, senang bekerja elok lakunya, kesayangan orang dalam kampung, cerdik nan bukan kepalang.
Berjalanlah si Sariamin, dibawa sirih dalam kampil, diturutlah lebuh nan panjang, ada serentang perjalanan, cukup kedua rentang panjang, nan jauh bertambah dekat jua, hampir sampai di tujuan, tampaklah rumah Siti Rawani.
Karena untung elok pelangkahan, bertemu ruas dengan bukunya, tampaklah si Bujang Saman, sedang berdiri di halaman, rupanya ia pulang dari Padang, berkatalah si Sariamin, “Kapan Buyuang datang dari Padang?”
Menjawab Si Bujang Saman, “Kemarin hamba pulang, naiklah Mandeh ke rumah.”
Mendengar suara si Sariamin, menoleh Siti Rawani, berkata sambil berpantun,
19