Lompat ke isi

Halaman:Si Gadih Ranti.pdf/34

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

Adapun maksud dalam hati, jadi keinginan sejak dahulu, jadi niatan sejak kecil, menjemput si Bujang Saman, jadi junjungan si Gadih Ranti, maksud kami usah ditolak, banyak orang nan datang, minta si Ranti jadi kawan anaknya, tak seorang pun ia suka.”

Mendengar perkatan si Sariamin, gelak bergumam Siti Rawani, ia mengenal si Gadih Ranti, orangnya elok sikapnya baik, roman rancak budi pun elok, sangat suka didalam hati.

Tapi sungguhpun begitu, dimuka tak kelihatan, berkatalah Siti Rawani, “Adapun si Bujang Saman, orang tinggi diruasnya, akal tak ada pikiran pun singkat, umur nan baru setahun jagung, darah nan baru setampuk pinang, orangnya masih bodoh, jika menyesal Kakak kemudian, elok nan lain kita cari, sama mencari malah kita.”

Mendengar pernyataan Siti Rawani, berkatalah Si Sariamin, “Kalau itu nan Kakak katakan, usah Kakak bersusah hati, menurut pandangan kami, adapun si Bujang Saman, orangnya cerdik cendikia, walaupun masih muda, sudah pandai berdagang di Padang.”

Menjawab Mandeh si Saman, “Jika Kakak berkata seperti itu, beri berpikir hamba dahulu, dibawa bermufakat dengan mamaknya, serta bapaknya si Bujang Saman, menanti Kakak seketika, hariSenin Kakak kembali, saat itu hamba beri jawabannya.”

Mendengar perkataan mandeh si Saman, senanglah hati si Sariamin, berkatalah ia saat itu, “Itulah kata nan sebenarnya, mufakatlah Kakak dahulu, mufakat sesuai harapan kami, usah diberi kami harapan, kami nan harap menantikan.”

Telah selesai runding berunding, nasi ditating oleh si Salamah, adik kandung si Bujang Saman, berkatalah si Sariamin, “Lorong pada makan dan minum, hamba nan baru sudah makan, tak dapat ditambah lagi.”

Setelah berjawab kata, turunlah si Sariamin, turun berbalik pulang, hati di dalam sangat senang, keinginan rasa tercapai, pinta rasa akan terpenuhi, senanglah hati si Sariamin, berjalan tergesa-

23