gesa, berjalan kembali pulang.
Telah serantang perjalanan, cukup kedua rentang panjang, hampir sampailah si Sariamin, sampailah ia di tujuan, di halaman rumah si Ranti, tampaklah mandeh di halaman, sedang menjemur padi dengan si Ranti.
Begitu sampai di halaman rumah, langsung disonsong dibawa ke rumah, hati di dalam harap-harap cemas, harap rasa akan diberi, takut rasa tak kan berlaku, diiringkanlah ke dalam rumah.
Ketika sampai di dalam rumah, disorongkan sirih dalam cerana, selesai mengunyah sirih, berkatalah si Sariamin, “Rupanya keinginan akan berlaku, senangkanlah hati Kakak, insya Allah akan terkabul, hari Senin hamba kembali, dibawa saluk sebagai tanda.”
Mendengar cerita si Sariamin, senanglah hati mandeh si Ranti, sejuk pikiran masa itu, habis sehari dua hari, sampailah di hari Senin, teringat janji nan dikarang.
Adapun si Sariamin, disisir rambut di kepala, dipakailah baju nan bersih, dibawa pula kain sebagai tanda, kain tanda kain balapak, tenunan orang Koto Gadang, dijinjing sirih dalam uncang, berjalan ke rumah mandeh si Saman.
Jika untung elok perjalanan, diturutlah lebuh nan panjang, telah serantang perjalanan, cukup kedua rentang panjang, hampir sampailah di tujuan, iyalah di rumah mandeh si Saman, tampaklah Siti Rawani dalam rumah, digelar tikar pandan putih, tak lama kemudian, nasi ditating oleh Salamah.
“Wahai Kakak makanlah dahulu, tak dapat Kakak menolak lagi, nasi terhidang minta dimakan, air di cerek minta diminum.”
Makanlah si Sariamin, berdua dengan mandeh si Saman, sedang makan bertutur juga, selesai makan dan minum, dikunyah sirih sekapur seorang.
25