Berkatalah mandeh si Saman, “Berhenti ketika sampai, bertutur sesudah makan, rupanya keinginan akan terwujud, pinta insya Allah akan diberi, sepakat mamak si Saman, begitu juga dengan bapaknya, sama setuju semuanya, berhati suka mamak dan bapak.
Lorong kepada nan akan memakai, iyalah anak si Bujang Saman, mujur sekali ia pulang, ia pun suka menerimanya, jika untung selamat pembauran, sampai mendapat anak pinak.”
Mendengar perkataan mandeh si Saman, senanglah hati si Sariamin, susah sudah terbayarkan, berkatalah si Sariamin, “Menurut adat nan dipakai, waris nan diturunkan, terimalah tanda pengikat erat,” dikeluarkanlah kain balapak, diberikan pada Siti Rawani, dek mandeh si Saman, diseluk tanda dengan keris emas, keris pusaka mamak kandung.
Setelah selesai berseluk tanda, dibuat janji waktu perkawinan, tiga hari ketika timbul bulan, kira-kira sebulan lagi, padan sudah diukur, janji pun sudah dikarang, senanglah hati keduanya, adapun si Sariamin, manti nan pandai bijaksana, berjalan berbalik pulang.
Perihal Siti Rawani, mandeh kandung si Bujang Saman, duduk termenung seketika, tak lama antaranya, terdengarlah suara si Saman, dilihat anak ke dalam rumah, duduk bersila di muka tonggak, berkatalah mandehnya saat itu.
“Wahai Ang Bujang Saman, tiga hari pada bulan depan, saat itulah nikah Anak Kandung, kira-kira sebulan lagi.
Karena waktu banyak nan luang, pergilah anak ke rumah bako, bako Ang si Jawair, mintalah izin untuk menikah, menikahi si Gadih Ranti, anak kandung Siti Fatimah, baik-baiklah kalau bertutur, kunjungilah bako Ang dua tiga.”
Lorong kepada si Saman, orang muda masak pengajaran, sangat hormat pada nan tua, berkata dengan lemah lembut, mulut manis kucindan elok, rupa elok bahasa pun baik, jarang pemuda seelok itu, tahu di untung dan bagian, tak suka bersenda gurau, anak tenang akalnya dalam.
27