TIPU MUSLIHAT
Kaba dialih pada si Ranti, sejak selesai bertukar tanda, Ranti akan menikah bulan depan, rumah pun diperbaiki, nan patut disisik sudah disisik, nan patut diganti sudah diganti, tukang tak hentinya bekerja.
Dilihat pula nan gadis-gadis, sibuk menjahit dan menyulam, ada juga nan merangkai bunga, sebagian lagi membuat kue, sibuk dengan kerja masing-masing, bunyi gelak berderai-derai, mereka saling bercanda, maklumlah anak muda-muda, besar hati pikiran senang, tak ada nan berhati susah.
Tak lama diantaranya, datanglah Angku kapalo, terkejutlah orang nan banyak, diangsur turun perlahan-lahan, berkatalah Angku Kapalo, “Di mana gerangan Datuak Batuah, apakah dia ada di sini?”
Menjawab mandeh si Ranti, berkata sambil menggigil, takut melihat Angku Kapalo, “Jika itu nan Inyiak tanyakan, beliau sedang berada di sawah, biarlah denai jemput sekarang,” berkata sambil berjalan, berjalan turun ke halaman, mandeh berlari-lari kecil, memanggil saudara kandung, hati di dalam tak lah senang.
Adapun Angku Kapalo, duduk berjuntai di kursi, disorong sirih oleh si Ranti, “Makanlah Inyiak dahulu, sambil menunggu mandeh pulang.”
31