Lompat ke isi

Halaman:Si Gadih Ranti.pdf/44

Dari Wikibasurek
↓Laman ko alah sah

Mendengar suara si Gadih Ranrti, arwah di badan rasa hendak terbang, mata tak lepas memandangi, berkata-kata dalam hati, tak ada gadis secantik ini, dua puluh istri hamba, belum ada secantik gadis ini.

Tumbuh di halaman kayu kalek
Tumbuh dekat kayu jati;
Terkelit iman si Gaek
Melihat roman si Gadih Ranti.

Hilir pedati Batang Gadih
Penuh muatan kayu kalek;
Melihat cantiknya anak gadis
Muda perhatian si Gaek.

Si Raman Sutan Pamuncak
Sedang berjalan ke hilir;
Melihat rupa gadis nan rancak
Rasa di cawan tepi bibir.

Besar airnya di seberang
Terendam batang daun buluh;
Jika mata puas memandang
Tangan tak dapat menyentuh.

Tak lama diantaranya, ke rumahlah mandeh si Ranti, berdua dengan Datuak Batuah, mamak kandung si Ranti, begitu sampai di dalam rumah, bersalam dengan Angku Kapalo.

“Sudah lama Inyiak ke rumah, hamba nan datang dari sawah, melihat padi nan masak,” katanya Datuak Batuah.

Menjawablah Angku Kapalo, “Hamba belum lama di sini, urusan penting dengan Datuak. Wahai Datuak Batuah, kalau dilihat dipandangi, dipandang umur telah sampai, patut diberi berjunjungan, untuk jadi suami si Ranti. Hamba tak berpanjang-panjang, tak ada guna diperpanjang, jika terlalu panjang kata itu, di situ juga kan tibanya, hamba meminta kepada Datuak, mempersunting bunga nan

33